70 Tahun

70 tahun bukan umur yang cukup tua, bukan juga umur yang cukup muda untuk negara ini. Bisa gue bilang, negara ini lagi masa "remaja". Seperti apa yang banyak orang bilang, negara ini mungkin sedang menjalani masa transisi dari remaja ke dewasa. Pembangunan dimana-mana dan ya, membuat keputusan keputusan yang lain. 

Hari ini pasti banyak banget yang ngepost di media social seberapa cinta & seberapa mereka ngebanggain Indonesia, di hari ini doang. mungkin. Nasionalisme yang kita punya sekarang bukan tentang perang, bukan tentang gimana ngusir penjajah. Gak susah, cuma jangan buang sampah sembarangan, cuma jangan ngelanggar rambu-rambu lalu lintas, cuma taat bayar pajak. Udah itu aja "cuma" nya kok. Tapi sekarang apa? Mengumbar di media social, ya i'm not blaming at all, but hell. Lo aja masih buang sampah sembarangan. Gimana negri ini mau maju sedangkan manusia-manusia, rakyat-rakyat ini mikirnya masih singkat? Maksudnya berpikir singkat yang gue maksud adalah, manusia-manusia ini mengeluh tentang banjir, manusia-manusia ini mengeluh tentang ekonomi. Tapi mereka ngga mikir itu adalah perbuatan mereka sendiri. Kalau mereka ngga buang sampah sembarangan, gimana mau banjir? Kalau mereka lebih milih beli produksi negri sendiri dan ngga milih brand-brand luar negri, pasti ekonomi Indonesia juga maju. 

Percaya kepada negri, pribadi sendiri. Indonesia harus membangun kepercayaan nya kepada "rakyat" nya. Banyak orang-orang yang hebat, orang-orang yang mampu, malah pergi keluar dari negara ini untuk mencari nafkah. Enggak, gue nggak nyalahin untuk orang yang mencari nafkah diluar. Tapi gue merasa sangat miris kenapa Indonesia tidak menghargai "Rakyat"nya. B. J. Habibie, presiden ke 3 kita, apa dia sebenarnya mau pergi dan meng"hebat"kan negara lain? Tidak, namun ia terpaksa karena Indonesia tidak menghargai karyanya, Indonesia tidak percaya akan kemampuan dirinya. Dan itu kenapa banyak keluhan di pelosok negara ini. Revolusi mental, itu yang Indonesia butuhkan. Berpikir positif.

Indonesia, satu kata berjuta makna. Satu negara berjuta suku bangsa, satu negara berjuta bahasa. Sayang, kepercayaan diri Indonesia dan manusia-manusia di dalamnya yang selalu pesimis. Manusia-manusia yang menyebutnya ini "Rakyat" kurang percaya dengan kemampuan diri mereka sendiri. Selalu mengidolakan negara lain, berkiblat ke negara lain dan akhirnya menyalahkan diri sendiri, menyalahkan negara sendiri "kenapa sih Indonesia gabisa gitu" "kenapa sih orang orang kita gabisa maju", ask yourself before you blaming like that.

"Do not ask what your country did to you, but ask your self what have you did for your country." - John F. Kennedy

Apa yang udah lo lakuin untuk negara lo ini sehingga lo bisa menghujat negara lo? Well, gue bukan orang yang bener-bener patriotisme tinggi. I do love reading about our history, i do love traveling to historical site. But if someone ask me "what have you done for your country?" i can't possibly answer "i fight for this country". What I have done is something small, something that didn't really well. But if you, if all people in this country do this something small, Indonesia will change. Jangan buang sampah semabarangan, hargai lingkungan dimana lo tinggal. Gimana bisa alam ini menghargai lo, sedangkan lo sendiri ngga menghargai alam? 

Menghargai alam,
Menghargai diri sendiri,
Berpikir positif,
Dan percaya akan kemampuan kita sendiri.

"Perjuangan ku lebih mudah karena mengusir penjajah, namun perjuangan mu lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri." - Bung Karno

Salam Rakyat Indonesia!
Dirgahayu Republikku.
Jaya terus NKRI!

See Ya!

Mohon maaf lahir & bathin semua. Iya, termasuk kelalaian gue dalam menulis blog. tapi gue akan mengusahakan akan menulis blog sekitar- ya sebulan sekali lah minimal. Entah bisa atau enggak, tapi diusahakan sekali.

Pernah nggak sih kalian tuh ngerasa orang yang udah kalian tau dari lama, maksudnya kalian udah ngerasa kenal banget sama seseorang. Dan ternyata dia berubah. Times flies, feelings change, people change. Ya dan gue ngerasain itu. Kita nggabisa seenaknya ngomong lagi, padahal dulu mau ngomong apa aja juga ga perduli. Ngomong apa aja ngga jadi masalah, mau ngomong "bangsat lo" "kampret lo" saat itu ngga akan pernah jadi masalah. Tapi sekali lagi, waktu berubah. Dan saat kita ngga sama seseorang yang dulu kita kenal itu, kita ngga tau apa yang udah terjadi sama dia. Kita ngga tau sejauh mana dia berubah. Manurut gue, perubahan itu hal yang paling nggak terduga & cepet. Saat udah kejadian, baru lo tau "oh dia udah berubah". Tapi lo gapunya hak buat ngomong "ah lo udah ga asik" atau "udah gaasik ya". Karena, lo ngga tau apa yang udah diajalanin. Dan perubahan setiap orang itu berbeda. Entah dalam jangka waktu yang lama atau enggak.

Dan jujur aja, sekarang gue merasa lebih "memilih" omongan gue kepada temen-temen gue yang dulu pernah deket. karena, ya mereka udah berubah. Dan gue gabisa nganggep mereka kayak dulu lagi. sedih? pasti. Tapi, ini juga proses pendewasaan buat guenya juga. Mungkin proses gue sedikit lebih lama daripada temen-temen gue yang dulu. entahlah. Tapi ini ngebuat gue ngerasa, perlahan-lahan semua orang akan pergi. Temen, atau mungkin yang bisa lo bilang sahabat lo, yang pas dibangku sekolah lo  ngeliat dia sampe enek-bosen. Tapi sekarang lo kangen banget sama candaannya dia yang dulu-- iya yang dulu. Karena ngga semuanya bisa di ajak bercanda kayak dulu lagi. Lo bilang dadah-- ya pas lo pulang sekolah dan besok lo bakal ketemu lagi di sekolah. Tapi sekarang, lo bilang dadah dan lo gatau kapan bakal ketemu mereka-mereka yang dulu pernah bikin lo enek tiap hari karena ketemu mereka. Lucu ya, dulu enek banget, sekarang malah bikin kangen. Semakin lo tambah dewasa, semakin lo kehilangan orang, semua orang beranjak pergi. entah dalam kata "pergi" yang mengartikan udah ngga ada. atau apapun itu. Pada akhirnya, emang yang ada buat diri kita. ya diri kita sendiri.

Dan ya gue kurang suka sama kata-kata "see you on top", karena gue. masih pengen dengerin curhatan sahabat-sahabat gue. Gimana mereka ngehadapin dunia yg baru setiap harinya, ngehadapin tantangan, ketemu temen-temen baru. Tapi, setelah gue kemarin ketemu sama sahabat gue, Dea. Gue tau, sahabat itu bukan orang yang lo chat-ngobrol setiap hari sama dia, sahabat bukan orang yang setiap minggu lo harus ketemu. dan ngobrol sama dia. Tapi sahabat, orang yang gabakal bikin lo berenti ngomong sekalinya lo ketemu sama dia. begitu pun dia, ngga akan pernah kehabisan topik pembicaraan dan-- semua yang udah dilaluin tanpa dia, akan selesai dalam sehari untuk di ceritain sama dia.

Kalo kalian punya sahabat-- atau teman yang kalian ngga mau mereka ilang dari kalian. Biarin mereka bebas. Biarin mereka nyari pengalaman. Dan suatu saat, terbukalah. Kalau mereka datang dan menceritakan semua ceritanya, apa yg telah mereka alami sama lo. Karena, disitu lo akan bahagia, dan lo pasti berpikir kalo emang ternyata mereka masih mau menceritakan kisahnya. Kepada lo, yang masih dianggap sebagai sahabatnya.

---

Karena yang Tau Diri Kita, Ya Kita.

Semester 2 dikuliahan lebh biadab daripada apapun di dunia ini. Bayangin aja kalau IP lo itu kayak turun banget dari semester 1. Gue nggak ngerti harus gimana mendeskripsikan semester 2 ini. Dengan cercaan dan tubian setiap harinya yang di luncurkan oleh kalkulus 2, kimia dasar, fisika dasar 2, dan aljabar linear ngebuat otak gue dipaksa bekerja 24 jam dalam sehari. Bahkan terkadang saat gue tidur aja itu pelajaran sampe kebawa dalam mimpi. Baru semester 2 aja gue beneran udah ngerasa jenuh banget dikuliahan. Gue nggak ikut kegiatan apa-apa. Nggak ikut kegiatan apa-apa aja gue bener-bener ngerasa gue nggak punya ‘me time’ gue. Apa lagi gue ikut apa-apa. 

Tapi jujur, entah kenapa gue kayak nggak ada ketertarikan apa-apa lagi untuk ikut suatu organisasi. Apa mungkin karena gue terlalu capek pas gue SMK? Entah. Cuma gue yang bisa jawab, tapi gue gak tau jawabannya apa. Waktu gue kepake banyak banget buat mikirin tugas, kuis, bikin tubes (Tugas Besar), dan Ospek Jurusan. Iya ospek jurusan. Gue nggak mau nyeritain ini sekarang. Tapi pasti nanti gue ceritain segimananya ospek jurusan gue, dan karena osjur gue banyak banget bikin memori yang indah, kesel, capek, banyak deh. Dan akhirnya gue memutuskan untuk kembali ke ‘sense’ gue. Gue bukan orang yang suka diem. Gue suka organisasi dan menyibukkan diri gue. Well, kebetulan BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) lagi buka KAMU (Kabinet Muda). Ikutlah gue, dengan setengah hati. Tapi berharap sih jadi sepenuh hati. Sebenernya gue lebih pengen ikut DPM (Dewan Perwakilan Mahasiswa) karena gue udah tau cara kerjanya gimana dan gajauh beda sama MPK (Majelis Perwakilan Kelas). Tapi gue mikir, kalo gue selalu milih apa yang gue tau dan selalu di ‘Comfort Zone’-nya gue, kapan gue belajar hal baru? Well, gue coba beberapa kali serangkaian test dari BEM ini, dan akhirnya gue keterima. Gue pelajari cara mereka kerja. Dan it don’t suits me well. Banyak hal yang beneran harus diubah. Dan gue jadi pasif, karena cara kerja gue nggak gitu. 

Akhirnya, dan emang gue udah menyerahkan ke-loyal-an gue terhadap jurusan gue, Teknik Elektro. Baliklah gue mencari-cari kesibukan di Elektro. Dan akhirnya ada pendaftaran panitia BTF (Blue Techno Festival), ini adalah acara ajang pameran dan ajang lomba elektronika, ya kayak robot gitu se-Indonesia. Dan keterimalah gue di Sie Acara. Karena gue baru tahun pertama dan gue gatau apa-apa, dan karena gue adalah orang yang kritis banyak banget yang gue Tanya. Dan akhirnya gue ditaro di Sub-Divisi Acara yaitu TA,Tubes,LAB. Jadi kita harus nyari alat-alat yang udah dibikin sama anak-anak elektro buat di pamerin di BTF. Dan gue kebagian jadi koor di TA. OH-MY-GAWD. TA itu tugas akhir, jadi yang udah skripsi mereka kan bikin alat gitu. DAN GUE MASIH ANAK TAHUN PERTAMA. MANA GUE KENAL SENIOR 2009,2010? Gila. Tapi gue harus bisa. Ya gue mencoba meminta bantuan dari tambatan hati #eak gue. Fariz Irza, Bang Paleo. Jadi doi ini angkatan 2009, kenapa gue bisa pacaran sama dia? Yabisa aja. Kenapa enggak. HEHE. Jadilah karena gue sering nemenin dia di lab buat nyelesaiin alatnya dia. Ya gue kenal beberapa senior-senior yang sudah agak uzur.

Well, karena menurut gue tanggung jawabnya berat gue memutuskan buat serius di BTF dulu dan nggak mau ikut kepanitiaan lain. Setelah sebulan BTF udah rapat pleno 0, dibukalah pendaftaran untuk kepanitiaan Ospek Jurusan gue, karena gue mau focus di BTF dan emang kami, beberapa manusia yang memikirkan Elektro angkatan gue sudah mempunyai pemikiran sepert ini :
“Yaudah, kita focus aja di kepanitiaan masing-masing di elektro. Kalo ada yang masuk BTF yaudah di BTF aja, biar yang lain yang ikut Quote (Osjur gue namanya quote, Quality Time of Electro). Biar angkatan kita semuanya kerja, bukan EIIA, Elektro Inih Inih Ajah.”

Well done. Gue focus di BTF. Rapat-rapat-rapat. Nguras pikiran juga. Tapi sejauh ini gue enjoy. Tapi gue masih merasa kalo ‘sense’ gue belum sepenuhnya balik. Gue bingung. Gue banyak nanya sama orang-orang yang menurut gue bisa buat diajak curhat tentang ginian. Dan makin banyak gue cerita sama orang tentang kebingungan gue tentang kehilangan ‘sense’ gue ini, gue makin bingung. Dan kebanyakan orang bilang ‘Iya wi, lo kecapean pas SMK dan sekarang lo mau nyantai. Emang kbanyakan gitu kok’, atau ‘Coba aja wi, pasti bisa kok’ , dan banyak masukan-masukan yang malah menurut gue tuh gak masuk ke gue. Mereka terlalu lembut ngomongin gue, gue tau gue tipe orang yang dikerasin buat hal kayak gini, tapi gak bisa terlalu keras juga sih. Dan pada akhirnya gue libur, pas gue libur grup MPK rame banget ngomongin tentang LDK (Latihan Dasar Kepemimpinan). Gue kira banyak alumni yang dating dikarenakan banyak yang berkicau, tapinya yang dateng Cuma gue, Ka Michellino Anglo yang Tampan, dan ka hikmawan. Lagi mau pulang, akhirnya gue coba memberanikan diri buat curhat tentang kegundahan hati gue. Dan akhirnya, ya ini jawaban yang gue mau. Ka Hikmawan dan Ka Michell yang mengeluarkan diri dari teknik dan malah masuk Ilmu Komunikasi, menurut mereka mungkin ini masalah biasa lah ya. Omongan Ka Hikmawan bener-bener buat gue mikir ‘Iya Juga Ya’. 

“Wi gini, yang tau tentang diri lo itu elo. Misalnya gini, lo mau ikut BEM. Kata orang BEM itu capek, BEM itu sibuk. Tapi taraf capek dan parameter sibuk setiap orang itu beda. Orang gabisa nyamain sawi kayak mereka atau mereka kayak sawi. Yang tau diri kita, ya kita. Sekarang coba belajar menganalisa masalah. Apa masalahnya, tulis di kertas, apa yang menurut padangan kamu baiknya, bagusnya, apa yang menurut kamu jeleknya. Habis itu kamu bandingin, apa lebih banyak bagusnya apa buruknya buat kamu? Itu udah menurut pandangan kamu. Dan berarti kamu udah bisa mengambil keputusan. Belajarlah menganalisa masalahnya.”

Well, iya. Gue nggak berpikiran sejauh itu. Gue belajar hal baru, gue dapet ilmu baru yang emang harus gue mulai terapkan. Makasih banget buat sharingnya ka Michell dan ka Hikmawan. Dan dengan penutupan dari ka Michell “Bener kata hikmawan wi. Wan, wan anda anak ilmu komunikasi ya? Soalnya saya juga dapet pak materi kayak gitu”. Ha-ha-ha. Dan gue berharap sense gue ini balik. Makasih buat semua yang udah mau dengerin curhat kampretnya gue. Makasih yang udah ngasih saran meskipun kadang sarannya masuk kuping kanan keluar kuping kiri gue. HEHE. Dan maaf atas kelalaian gue dalam menulis blog, karena anda bisa melihat kalimat pertama yang saya tulis dalam post ini. Ciao Bella.

Holy-Day

Soooooo Hello everybody. Welcome to my blog, *again. Well I have nothing to do in this very-long-holiday (I should be happy, should I?). But I have something that I must do. What is that? well, design. I don't know why am I really love designing but I was taking electrical engineering as my major. 

Banyak banget hal-hal yang udah kelewat yang gue sama sekali ngga sempet buat nulis di blog ini. Gue masih bingung sih mau ngejadiin blog ini tuh apa. Apa buat design atau buat curahan hati gue yang gaada abisnya. Gimanapun juga blog gue gabakal terkenal sih kayaknya. Konsumsi sendiri aja deh *akhirnyapun menyerah. 

Kali ini gue mau ngasih liat sedikit design-design sticker gue buat Penerimaan Mahasiswa Baru 2015, Khusus Teknik Elektro. 

1. Fisrt Design

Gue ngasih design yang bener-bener simple banget buat design sticker gue yang pertama ini. Sebenernya background hitam belakangnya itu harusnya transparat. Tapi karena diriku masih newbie, aku nggatau gimana ngesave png dari photoshop. Hihi jadi malu. Kenapa warnanya biru dan orange? Soalnya elektro itu biru. Dan lambang petir dari elektro itu sendiri warnanya orange. Jadi biar gak terlalu kuno gue mencoba buat bikin Typhography yang sangat simple itu dengan balutan segitiga-segita yang edgy gitu. Kalo ada yang kurang kalian bisa ngasih masukan. Gue makasih banget kalo ada yang mau ngasih masukan buat design-design newbie gue.

2. Second Design
Gue tau banget kalo pas lo ngeliat ini bakal bilang "sumpah ini hampa banget". Iya gue juga ngerasa kalo ini hampa banget, tapi entah kenapa kalo dikasih tulisan di tamengnya jadi kayak maksa banget gitu. Masih muter otak buat nambahin apa. Kalo ada yang punya ide tolong kasih tau ya. Bener-bener stuck. Tapi insyaallah bakal selesailah.

Well, kalo ada apa apa kalian bisa kontak gue ke :
Email : farisapratiwi@gmail.com
Line ID : Farisawii

Makasih banget buat yang udah baca postingan nggajelas ini. Karena gue kangen aja sama blog gue. Oiya kalo ada yang mau minta tutorial, mau minta ajarin akusih mau mau aja. Kontak aja.

Oiya ini lambang elektronya. Ya, kalo ada yang mau bantu mikit itu logo mau diapain. 

Terimakasih~

Packing

Hari ini gue perlahan-lahan mulai menjadi pembokat kayak dulu pas dikosan. Hari ini gue packing buat nyiapin segala kebutuhan gue di asrama lagi. Waktu gue mau ngekost dulu yang nyiapin masih nyokab karena ya gue masih unyu nan imut yang belum terlalu ngerti apa-apa. Hari ini gue bingung banget apa yang harus gue persiapkan dan apa yang harus gue bawa ya meskipun gue udah terbiasa ngekost. Entah kenapa tinggal di asrama sama di kosan tuh kayak beda banget gitu. Iya tau gue tau sama aja sih sebenernya. Tapi gue jadi males gitu mau beli apa-apa. Gue asrama 1 kamar ber4. Gue nggak tau siapa yang bakal jadi temen sekamar gue. Yang gue tau gue satu gedung sama mbak Okta. Kenapa gue males beli apa-apa? Gue tuh kayak mikir banget kalo nanti gue beli sapu dan peralatan rumah tangga lain nya. Gue mikir “yaelah masa temen sekamar gue ngga ada yang bawa sih. Ya kalo nggak ada tinggal minjem ke tetangga”. Otak anak kost banget.

Gue packing, pertamanya nyuci tas dulu, gue nyetrika kemeja-kemeja gue dan kerudung. Fyi, gue sekarang Alhamdulillah udah hijaban. Doain aku langgeng sama hijab ku ya! Abis udah kelar sama baju, gue mulai nyiapin berkas-berkas kuliah gue. Nyariin binder ijo sakti gue, nyari alat tulis, nyari rapor dan macem-macem. Gue mulai ngebuka dus-dus hasil packing dulu di kosan. Ngebuka dus itu sama aja kayak ngebuka semua kenangan gue di SMK. Gue mulai terhanyut, gue buka satu-satu buku, gue liatin barang-barang gue.

Hal pertama yang gue pegang adalah bingkai kuning hadiah ulang tahun gue dari Empang, disitu ada foto kita ber 6, gue termenung. Gue kangen orang-orang biadab itu, gue kangen kesenonoh-an mereka. Dan saat gue udah mulai sadar, kita ber-6 nggak bakal bareng-bareng lagi. Perasaan sedih mulai dateng ke gue. Gue ngga mau pisah sama kalian. Tapi, demi masa depan. Yaudahlah. Gue yakin kok Cuma raga kita yang kepisah, tapi hati kita selalu bareng. Amin, dan semoga kita ber 6 sukses di jalan masing-masing.

Gue ngeliat nametag, nametag gue. Ada nametag pas gue tugas pertama kali di event, satellite 13 jadi sie dokumentasi yang dokumentasinya cuman hari biasa. Pas opening sama closing sama sekali nggak tugas karena malah jadi MC. Terus nametag mos. Pas gue kelas satu gue inget banget banyak banget yang ngalungin gue nametag sampe kebawah-bawah, sejahat itu kah gue? Pas kelas 2 gue jadi mentor, gue baik. Tapi masih hobi teriak-teriak. Ada nametag combantrin juga, kalo combantrin sih gila banget lah! Ahaha. Pikiran gue bermain dengan memori-memori di setiap barang itu, pengen banget balik ke waktu itu, atau mungkin berharap semoga waktu itu akan terulang di masa yang akan datang.

Ada juga barang-barang peninggalan mantan, kamera lomo kuning. Ya, kamera itu yg dikasih Vicky waktu ulang tahun terakhir gue pas masih pacaran sama dia, memori tentang Vicky, betapa senengnya gue dapet camera itu yang sampe sekarang sebenernya belum pernah gue pake dan gue sangat penasaran sama hasil jadinya karena masih pake rol film. Buku hitam, yang berisi semua kenangan gue sama An. Pertama kali kita jalan bareng pas pacaran, macem-macem. Itu semacam scrapbook, momen-momen seru, sedih, macem-macem. Talking Panda dari an, suara nya an yg mengisi boneka itu. “Selamat Malam Sayang. Have a nice dream. Aku saying kamu Farisa Pratiwi”. Dan yang terakhir, yang ngebuat gue sempet kehanyut dalam lamun.

Surat Oranye.

Surat itu yang ngebuat gue ketawa, nangis, dan senyum kalo baca surat itu. Gue ngebaca surat itu hari ini, entah untuk keberapa kalinya gue baca surat itu dan selalu merindukan orang yang menulis surat itu. Entah berapa kali juga gue terhanyut, ke muara kesedihan untuk mengenang orang itu kembali. Setelah membaca surat itu, gue masih menatap kosong surat itu, melamunkan sekilas kenangan akan dirinya. Gue tutup surat itu dengan senyum di bibir gue. Rupanya gue udah ikhlas akan kepergian nya yang tragis. Tapi mata gue teralihkan lagi dengan boneka kuning-pink yang lucu itu. Ya, boneka itu akhirnya didapatkan dari mesin mainan yang menjadi musuh bebuyutan nya. Untuk sesaat aku kembali pada masa itu dimana kita sedang bermain mesin itu dan tiba-tiba ia mendapatkannya, boneka dari mesin yang sealu ingin dikalahkannya. Bukannya berteriak kegirangan, kami malah termenung beberapa saat sebelum akhirnya berteriak kegirangan. Kali ini, boleh kah aku menyebut nama mu? Nur. Buku pemberiannya, boneka panda pemberiannya, semua kisah singkat kami yang hanya berjalan 3 bulan. Tertawa bersama, bercanda, sedih, dan perasaan lain nya yang belum pernah gue dapetin dari siapapun. Dan kamu memberinya hanya dalam 3 bulan. Masa pacaran yg paling singkat untukku. Thanks for our little infinity.


Tapi gue nggak mau untuk terhanyut makin jauh lagi. Gue udah bisa mengikhlaskan dia dan udah siap untuk memulai baru tanpa dia di hidup gue yang baru. Sekarang, ada “dia” yang lain mengisi hariku. Terbayang akan caranya tertawa ngebuat gue bahagia dan ngelupain masa-masa sulit itu. Cara dia tertawa yang mengalihkan ku. Cara dia menatap, cara dia menggenggam. Gue jatuh cinta, saat dia ketawa. Dan saat dia genggam tangan gue, dia ngga pernah lagi keluar dari pikiran gue. Tapi gue takut untuk maju menghadapinya. Biarlah waktu yang menjawab.

Dan dengan kembalinya “Dia” yang lain di pikiran gue. Gue menutup box itu dan hanya mengambil frame kuning dari Empang, karena cerita kami belum selesai. Tapi kalian, maaf. Dengan menutupnya box ini, gue juga udah mengikrarkan bahwa kalian ngga lebih dari masa lalu yang nggabisa nyakitin gue lagi dan gue menganggap kalian hanya pembuat kenangan dan warna dari hidup gue yang baru ingin dimulai, sekarang.

Terimakasih untuk banyak mengajarkan segala hal untuk persiapan hidup gue yang mendatang.

Salam, penghuni kamar D-202.


Secret

Selamat Malam Penduduk Indonesia! Selamat menyambut perubahan baru yang dimulai dari diri sendiri.

Sembari ngedengerin pengumuman hasil pemilu, hape gue bergetar-getar. Ternyata Line dari sebuah grup biadab. Grup itu gue yang bikin, waktu itu niatnya buat ngumpulin anak-anak biar bisa ketemuan sama Ayas. Pertama-tama grup ini benar. Namun lama kelamaan grup ini terlalu hina untuk diceritakan. Topik kita ngga jauh jauh dari “something” itu. Dan nggak ada rasa canggung sama sekali mau ngomong apaan kek. Gue ngakak, tapi ke-ngakak-an ini nggak bisa dikeluarkan begitu saja karena rumah gue lagi khidmat abis. Jadi gue cuman bisa bergetar hebat, hebat sekali.

Grup biadab ini beneran berisik. Dan yang nggak pernah absen buat ngeberisikin grup itu Ayas & Adella. Mereka jomblo, makanya selalu on. Sekalinya lo ninggal grup biadab ini, tiba-tiba lo liat notif udah 100 lebih aja. Gue juga tau betapa annoyingnya kita, apa lagi buat orang-orang yang jarang on kayak Gita dan Amanda. Tapi ternyata diam-diam mereka membaca percakapan biadab itu.

Tapi nggak semuanya isi chat kita gituan, eh. 3:4 sih. 1:4 nya waktu itu adella minta saran, gue juga sempet minta saran. Pertama-tamanya sih bener. Tapi paling akhir-akhirnya juga ngomongin “something” itu yang kalo gue ceritain disini kalian bakal nganggep kita jayus, idiot, aneh atau apalah.
Isi grup ini bener-bener ajaib, ajaib sekali.

Oiya, ini sedikit percakapan versi serius kita yang di kutip oleh adella. Klik disini.

Well gue baru aja di tegor sama nyokab “KAMU TUH NANGIS APA KETAWA SIH?” aku nangis sambil ketawa mah.. meratapi hidup, kenapa teman-teman ku sebiadab ini. Kalian penasaran apa yang kita omongin? Kalo kata Adella. Ini tuh nggak lucu, Cuma lutju.

Due to adella's posting, Ya gue pasti punya waktu buat nyeritain ke-idiot-an dan ke-guoblokkan kita ke anak kita, dipilih-pilih sih pastinya kalo mau cerita juga. HAHA.

Oia btw gue abis gambar Archie nih untuk tribute konser 3 tahun lalu di Indonesia.


Ciao, ini post paling nggak penting sumpah.

Dan yang bisa gue sadari dari sekian ribu convo kita ber 9, ada hal yang gue bisa mengerti. Bahwa,

Kami Sudah Dewasa.


Where Your Voice Will Flow?

Kali ini gue mau ngasih tau kalian dan pasti udah pada tau juga sih. Cuma mau mengingatkan bahwa ini Negara demokrasi. Yang berarti setiap rakyat di Negara ini bisa menyuarakan suaranya dengan bebas tanpa ada yang membatasi dan mengekang. Well, ini kali pertama gue bener-bener mau ngomongin politik di blog gue. Sebelumnya, gue juga mau ngasih tau sih kalo misalnya gue bener-bener tertarik dengan politik dari umur gue sekitar 9 tahun, ya masih duduk di bangku kelas 3 SD. Gue suka politik berawal dari pelajaran sejarah. Pelajaran Ips sih sebenernya. Ya ada Sejarahnya, dan gue jatuh cinta dengan kedua bapak Proklamator kita. Terutama kepada Ir. Soekarno.

Gue bukan mau ngomongin tentang Soekarno, tapi gue mau ngomongin tentang krisis “Politik” di Negara ini. Nggak salah semua orang ber-asumsi, tapi ada asumsi-asumsi yang hanya berdasarkan kepada omgongan satu dua orang dan mungkin dengan politik “uang”. Gue juga ngga menyalahkan untuk siapa-siapa yang salah ber-asumsi. Karena menurut gue yang salah adalah pada “system” sejarah kita sendiri. Kenapa gue ngomong gitu? Ya karena orang-orang Indonesia kebanyakan yang melupakan sejarahnya. Dan sangat disayangkan juga tentang Sejarah Bangsa kita, karena menurut gue yang mengetahui benar sejarah Indonesia itu adalah orang belanda. Kenapa? Karena kita masih mengabaikan banyak hal yang menurut gue sebenernya penting. Contoh singkatnya adalah “Naskah Proklamasi”. Iya naskah proklamasi asli tulisan tangan Bung Karno yang belum di ketik Oleh Sayuti Melik. Dimana naskah proklamasi itu berada? Seorang Office Boy menemukan kertas asli proklamasi itu tergeletak saja di kantor halaman Bank Indonesia. Bahkan dalam keadaan yang terlipat-lipat dan akhirnya Office Boy itu menyerahkan kembali naskah proklamasi itu. Namun sekarang naskah proklamasi itu terbaring di dalam kotak kecil dalam keadaan terlipat dan tersimpan di Istana Kepresidenan. Kalau tidak percaya silahkan buktikan sendiri.

Jadi gue sangat merasa prihatin dengan bangsa ini yang perlahan mulai melupakan sejarahnya. Gue anak muda, gue nggak kuper-kuper banget. Tapi pas gue ngeliat ada banyak temen gue di ‘dunia burung’ yang nge tweet “Ya itukan masa lalu. Ngga penting”. Masa lalu emang udah berlalu, tapi itu penting. Dikutip dari perkataan bung karno dalam pidato 17 Agustus tahun 1966:

“Janganlah melihat masa depan dengan Mata Buta! Masa yang lampau adalah berguna sekali untuk menjadi benggalannya dan pada masa yang akan datang.”

Well said. Tapi bukan hanya satu alasan itu kenapa gue mau memilih si “salam dua jari” ini. Masih banyak alasan-alasan lain. Gue bukan mau ngedoktrin kalian semua tentang apa yang gue omongin. Cuman gue mau menuangkan pikiran gue untuk  temen-temen seumuran gue yang bisa dibilang bingung. Ya awalnya gue juga bingung. Nyari di google, nonton berita di TV juga ngga cukup untuk “meneguhkan” memilih siapa. Tapi, dari sisi gue. Gue mempertimbangkan hal-hal ini:

  1.      Hak Asasi Manusia. Bukti surat pemecatan DKP juga belum bisa menneguhkan hati gue. Surat pemecatan bapak sebelah. Gue belum percaya karena sejarah kita itu banyak yang di belokkan. Yang menjadi pertimbangan gue adalah pada saat debat Capres-Cawapres yang diadakan KPU. Saat pak JK bertanya kepada bapak sebelah tentang HAM dan bagaimana bapak capres sebelah mau melindungi HAM seluruh rakyat Indonesia. Jujur saja menurut gue bapak capres sebelah terlihat emosional membahas masalah HAM. Satu kalimat yang masih terngiang di kepala gue “Jadi bapak berfikir karena saya adalah pelanggar HAM, itu berarti saya tidak bisa melindungi HAM rakyat Indonesia?”. Merasa ada yang janggal? “karena saya adalah pelanggar HAM”.
  2.     Saat berpidato pak Capres sebelah lebih banyak menekankan kata “saya” dari pada “kita” atau “kami”. Bilang ini sepele? Tidak, bagi orang yang cukup aktif di organisasi dan majelis, kata-kata yang menurut anda sepele ini sangat berarti besar. Mencerminkan sikap dan cara kepemimpinan orang tsb. Kalau belum cukup jelas, lihat gambar dibawah.
  3.       Orasi prabowo : “Saya akan melindungi kalian semua. Percayalah kepada saya.” Orasi Jokowi : “kita bisa melakukan ini bersama. Percayalah pada diri kalian sendiri.”.Sekarang, The only perception is : Kalian lebih milih di pimpin oleh satu komando, atau di bimbing untuk memimpin diri sendiri untuk satu tujuan yang sama?
  4.       Lalu pada saat debat cawapres-wapres yang pertama juga saat topiknya masih tentang “HAM”. Bung Hatta “KW” menjawab “HAM adalah untuk semua orang tanpa terkecuali.” Kecuali anak bapak? Pak, anak bapak yang nabrak orang sampe meninggal di tol itu apa kabar pak?
  5.    Saat debat pertama ditanyakan untuk pengembangan daerah bapak sebelah menjawab bahwa Indonesia tidak usah ada pengembangan wilayah lagi karena potensi rakyat belum memadai. Tapi saat ditanya tentang “kenapa menteri dan pejabat negara masih banyak yang korupsi?” dengan santai nya bapak sebelah ngomong “Karena menteri belum sejahtera” well said. Menteri harus di sejahterakan tapi dana untuk pengembangan daerah ngga dikasih? Oke deh pak.
  6.     Dan satu alasan lagi dan mungkin ini penjabaran terakhir gue. Karena sebenernya masih banyak. Orang-orang yang berada di belakang bapak sebelah. Dia menjanjikan kepada bapak ARB bahwa nanti kalo dia jadi presiden, beliau ini akan mengangkat pak ARB menjadi ketua menteri. Yang ditakutkan pada saat pak ARB ini menjadi ketua menteri, anggaran APBN akan di delegasikan untuk Lumpur Lapindo. Lumpur Lapindo ‘takutnya’ akan dijadikan bencana nasional dan dia akan dengan enaknya memakai APBN untuk mengganti ganti rugi untuk korban Lumpur Lapindo yang sebenarnya “pure” kesalahan ARB. Dan btw masih inget pernikahan Nia Rahmadani dengan anaknya ARB yang menyentuh angka milyaran bahkan hamper triliunan. Tapi saying saat di telusuri, ARB sudah menunggak pajak 2 Tahun. Masih nunggak nggak ya? Kalo masih nunggak.. Nunggaknya udah berapa tahun itu pak?

Well segitu penjabaran gue. Buat nambah-nambahin info, ini ada link:


http://t.co/k9tjzHYtNR

Dan tadi ada debat di Mata Najwa yang bikin gue sangat jengkel dengan statement dari kubu capres dan cawapres sebelah yang mendelegasikan bahwa mereka adalah titisan Soekarno dan Bung Hatta. Guondok denger nya bapak. Soekarno, ia adalah manoesia yang tak pernah sekalipun membunuh nyamuk yang menggerogoti tubuhnya. Soekarno, ia adalah manoesia yang menangis bersama rakyatnya. Soekarno, ia adalah manoesia yang memperjuangkan kaum-kaum marhaen dan HAM. Bung Karno dan Bung Hatta adalah dua sosok yang saya kagumi dan kalau boleh jujur saya ingin hidup dalam zaman mereka. Dimana semua orang mempunyai satu tujuan yang sama “Indonesia Merdeka”. Tak terbesit tentang korupsi, perbedaan ras, agama, social. Karena yang dimau hanya satu “Indonesia Merdeka”. Dan satu. Bung Karno dan Bung Hatta selalu mengucapkan kata “kita” bukan “saya.

Sekian dari saya, ini hanya opini saya yang berdasarkan sumber-sumber yang telah saya cermati. Saya harap kalian mengerti bahwa saya hanya ingin berbagi tentang pemikiran saya. Saya tidak memaksakan anda harus satu suara dengan saya, karena kembali ke sumber dari segala hukum. Pancasila. Dan kembali kepada tulisan di seutas kain yang dibawa oleh Garuda Emas kita. “Bhinneka Tunggal Ika”.

Semoga anda yang berbeda pendapat dengan saya juga bisa menghargai Saya.